What should i do?

 Aku masih menangis sampai hari ini, mempertanyakan apakah aku pantas untuk cinta yang sempurna? apakah aku benar sedang di usahakan?. Banyak orang mengatakan bahwa aku teramat bodoh dalam menyimpulkan perihal cinta, padahal aku tak pernah benar-benar menyimpulkan, aku masih saja terus meragu mempertanyakan.

“nia, kau lah ngerasoin berkali-kali ckmno sakitnyo, hrusnyo kau biso mikir dan sadar tanpa perlu kami kato-katoin dulu”

Aku kerap kali mendengar bualan itu terbang di sekitarku, menusuk tulang-belulangku, terkadang pun aku tak tau bagaimana reaksi yang tepat untuk itu. 

Lautan individu itu tak tahu bagaimana kamu menarikku sekuat tenaga mu dengan peran paling lemah mu yang selalu berhasil meluluhkan ku, layaknya langit yang membutuh kan hujan. Sial sekali rasanya karna kamu berhasil menemukan kelemahan ku, yang membuatmu selalu berhasil membuatku memberimu.

Aku manusia paling bodoh, aku akui itu. Tapi pernah kah terlintas di kepala mu bahwa aku juga adalah manusia paling tidak tega atas hidupmu?, tuan.

Sesekali aku menangisi diri, merasa tak di berkati soal hati, ada banyak orang lalu lalang melintas mencoba membuka asa, tapi aku memilih melempar kesempatan berkali-kali pada jurang yang sama dengan jurang yang berkali-kali nyaris menenggelamkan.

Dengan banyak luka yang membeku dan membekas, ternyata menjadikan ku sebagai rania yang penuh dengan ketidakpercayaan, ketidakyakinan, dan ketidakpastian. Aku tak lagi bisa memberi cinta yang penuh, cinta ku hanyut terbawa rasa takut, takut untuk memberi, takut untuk mempercayai, dan takut untuk kembali.

Komentar

Postingan Populer