aku meragu
“apakah aku pernah benar-benar dicinta dan didamba oleh seseorang?” pertanyaan yang tidak sengaja terlintas di kepala ku saat ini.
Aku berbalik beberapa langkah kebelakang untuk memastikan bahwa benar ternyata aku tidak pernah benar-benar di inginkan. Mengemis untuk dicintai bukanlah solusi atas ketidak-beruntungan yang aku rasakan, aku berusaha menjauh dari semua rasa tidak adil yang menghantui hari, apakah menurutmu rasa tenang yang membantuku? sialnya bukan. Aku membuat diriku tersiksa dengan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang membabat habis akhir pekan.
Depresi? rasa-rasanya depresi pun tidak sempat mengacaukanku akibat jadwal proker-proker yang membludak dan hampir meledak.
Aku rasa kamu sudah sangat terbiasa dengan bahagia tanpa menghiraukan sedikit saja perihal tangisan ku yang meledak kala itu. Tidak ada yang salah dengan harapmu pada perempuan mu yang kamu impikan “abadi” itu. Yang salah adalah mengapa aku sempat membiarkanmu mengacaukan dunia yang menjadi satu-satunya yang aku punya.
Aku rasa tidak akan menjadi salah jikalau aku juga mengharapkan akhir bahagia atas sisa kekacauan hidup yang aku punya. Tapi akankah tuhan berkenan menjaga harapku dan harapmu yang sudah berbeda haluan?
Akan menjadi salah jika aku mengharapkan karma menyerangmu dengan kejam, aku percaya bahwa waktu lah yang akan menunjukkan bagaimana cinta seharusnya bekerja dengan semestinya. Aku tak perlu bersusah payah memohon kepada tuhan untuk ditunjukkan rasa sesalmu akan lukaku yang kamu ciptakan,
Tuhan ku menciptakan ku dengan cinta yang lebih besar dari yang aku bayangkan, karna nya aku percaya pula bahwa “cinta yang tulus akan menemukan cintanya yang setara tulusnya”.
Ya, aku sempat menginginkan cinta tulus itu darimu.
Komentar
Posting Komentar