Aku yang kalah

 Aku sudah berjalan sejauh ini tanpa pernah aku sadari, sesekali aku masih menyalahkan mu krna luka yang kamu tinggalkan berhasil membawaku sangat jauh.

Rania yang selalu berada di belakang layar tiba-tiba menjadi ketua organisasi yang cukup besar, rania yang pemalu tiba-tiba harus bercengkerama dengan orang-orang yang bahkan tidak ia kenal, rania yang seringkali menutup diri tiba-tiba menjadi dikenal dan mengenal banyak orang-orang yang ia sendiri tidak menyadari bahwa ia berada di lingkungan yang sama, sungguh jauh sekali rasanya.

Beberapa minggu yang lalu, entahlah aku tak ingat tepatnya. Aku melihat seseorang dari kejauhan yang nampak seperti kamu, tidak begitu jauh namun aku meragu. Sepanjang perjalanan aku mempertanyakan apakah itu benar kamu atau bukan? dan aku merasa senang dan pilu dalam waktu bersamaan. Mengapa demikian?

Satu hal yang aku sadari saat itu, ternyata aku sudah biasa saja dan aku senang atas itu, namun aku juga merasa pilu karna aku sudah tidak begitu mengenali mu. Aku meragukan ingatan ku tentang mu, aku tak mengingat lagi bagaimana senyum mu dihadapan ku karna aku tak pernah lagi melihat itu, aku tak mengingat lagi bagaimana suara mu karna aku tak pernah lagi mendengar itu, dan aku pun tak mengingat lagi bagaimana rupa menawan mu yang memikat ku kala itu, krna kamu bukan lagi untukku.

Dan yang paling memilukan adalah, semua hal tentangmu yang aku ragukan dan lupakan itu adalah hal yang dulu paling membahagiakan ku, tak pernah ku temukan lagi sesuatu yang se-membahagiakan itu, tapi semua sudah terasa biasa saja, lalu apakah aku tak pernah benar-benar berbahagia setelah hari itu?, aku kembali mencoba menyimpulkan, namun lagi-lagi aku hanya menemukan bahwa aku lah yang kalah.

Tidak peduli dengan semua pencapaian atau produktivitas yang aku jalani dengan susah payah, pada akhir cerita itu tetap saja aku yang kalah.

Komentar

Postingan Populer