Pada Ruang yang Tak Sama

 “Panche Hub” sebuah cafe di sekitar kota Palembang yang dulu sempat ia cerita kan, “nanti kita kesana, ya” kalimat yang ia ucapkan karna ia tau betul bahwa cafe itu sangat tepat untuk ku. Cafe itu melewati beranda ku membuatku melintasi kembali dialog malam dengannya kala itu.

Aku suka spent time ku dengan menggambar, disana aku bisa melakukannya, katanya. Aku menunggu hari itu tiba dengan penuh harapan, sungguh. Akan sangat berbohong jika aku bilang bahwa aku tidak mengharapkan apapun. Sayangnya, sampai kisah itu di akhiri pun aku tak pernah singgah ke tempat itu. Pada awalnya aku berpikir aku bisa saja kesana tapi apalah artinya jika itu bukan dengannya, aku menyanyangkan nya.

Tapi ketika semua dipikir kembali, sepertinya tak apa jika tak dengannya, aku bebas pergi kesana kapan pun selagi aku bisa tanpa perduli dengan siapa, karna bahagia ku bergantung pada diriku.

Dan pada ruang yang tak sama…aku meyakini, ia masih mengingat betul seperti apa aku, dan ia tau betul apa saja yang menggambarkan aku…seperti makanan, tempat, cuaca, pemandangan, dan semua tentang aku yang tergambar oleh semesta di sekitarnya. Aku yakin betul ia masih di kelilingi itu. Tapi apa artinya itu jikalau semua sudah tak sama? tak akan ada guna nya.

Aku sudah perlahan menemukan bahagia, kembali menemukan jiwa ku yang sempat luka dan hilang, dan berbalik arah tak pernah ada dalam rencana, namun sialnya terkadang aku masih di selimuti rasa bersalah hanya karna merasa berbahagia, terkesan aku egois pada logika yang enggan untuk mulai kembali percaya, tak apa aku tetap mencoba perlahan.



Komentar

Postingan Populer