Aku yang terubah,


 Seketika aku terbangun dari usahaku melelapkan tidurku, aku bertanya apa yang membuatku demikian? ternyata hari ini 16 oktober, aku bahkan belum sempat menyapa Oktoberku di tahun ini,

Hi! Oktober,

Aku tidak akan berharap apapun di bulan ini, karna semua terasa abu-abu, aku tak punya cuplikan kecil tentang bagaimana jalan di depan ku,

Apa kabar? semoga kamu tidak lupa bahwa tepat di hari ini hingga ke tanggal 21 oktober di tahun lalu kita menancapkan luka yang sama sakitnya pada masing-masing diri kita, mungkin bagimu itu hanyalah tinggal cerita yang bahkan tak perlu di ingat, 

Tapi tidak bagiku, tuan. 

Jangka waktu itu membuatku belajar banyak hal yang merubahku menjadi rania yang sekarang, ada banyak sekali kiasan-kiasan pahit yang harus aku lampirkan dalam lembar akhir cerita ku. Aku butuh berbulan-bulan untuk sekedar memikirkan apakah bab itu harus aku lanjutkan atau tidak. Aku butuh ribuan kali meyakini apakah aku benar adalah satu-satunya masalah yang membuat kita berhenti. Padahal di malam tanggal 20 itu aku hanya mau kamu meyakinkan ku, bukannya melepaskan ku.

Sejujurnya, semua layar media sosial masih terus saja membuat kamu membayangi hari ku, “isss kenapoo sii prodi/fakultas/profesi ini lewat teross, herannn kan jdi teringat, sialan”, itulah yang seringkali aku ucapkan saat sesekali aku merasa kesal, seakan dunia melarangku membuang kenangan ku begitu saja. Sama hal nya dengan malam ini, aku kehilangan rasa kantuk karna aku menemukan cuplikan perayaan organisasi mu terpampang di kanal explore instagramku, disaat yang sama di satu tahun lalu, kamu membuatku menemukan sisi tidak menyenangkan mu.

Aku meyakini bahwa kamu tak akan mengenaliku, aku bukan rania yang suka thai tea botol itu lagi, aku bukan rania dengan mixue sunday itu lagi, tapi aku masih rania yang gemar sate, rania yang gemar mie ayam dan juga sate kulit, beberapa rania yang kamu kenal lainnya memilih untuk menghilang, dan menghadirkan rania yang sekarang.

Aku rania si penggemar no 1 dimsum mentai, rania si penggemar angkringan tamsil, rania si pemakan nasi cokot everyday, aku rania yang berbeda sejak satu tahun lalu, bukan cuma soal kegemaran, tapi juga soal sudut pandang nya yang terubah karna luka yang kamu tinggalkan.

Dan rania yang kamu temukan kemarin, ia sudah hilang dan tak akan pernah kamu temukan, aku membuangnya bahkan lebih jauh dari sekedar dasar lautan.

Aku mendoakan,

semoga kamu beruntung, tuan.


Komentar

Postingan Populer