Kedai Sate, Yogyakarta

Hari itu, di tepian kota istimewa.

Aku menyantap pertusuk bagian ayam yang disiram bumbu kacang, sebuah hidangan yang akan selalu menjadi hidangan kegemaran. Mula-mula semua tampak biasa saja, tetap tidak setelah aku menyaksikan sekeliling ku yang dipenuhi dengan cinta orang-orang. 

Disisi kiri, tampak dua remaja yang terlihat saling mencinta, menikmati suasana kedai sate dengan sangat bahagia, Mereka melipat tawa jadi perahu, berlayar berdua di meja sepi. Aku juga melipat perahu, tapi hanya untuk menemani sunyi. Sialnya di saat bersamaan aku mendadak teringat momen yang sama ketika denganmu kala itu, hampir satu tahun yang lalu di kedai sate muhajirin yang selalu menjadi tujuan kita bertemu.

Disisi lainnya, seorang suami yang menuntun perempuannya berjalan tertatih demi menikmati sate yang mungkin saja itu juga menjadi menu favorit mereka, tentu saja di penuhi oleh cinta, sesekali terputar di kepala ku “oh god, i wish”.

Di sini, bukan sekadar sate yang terhidang, tapi sebuah ingatan tentang tatapan yang gugup, tentang hari ulang tahun ku yang kamu jadikan kesempatan menjalin ikatan. Kini, tusukan sate masih sama, lampu jalan tetap redup, namun bangku kosong di hadapanku berbicara lebih keras daripada kata-kata.

Aku menggigit dagingnya perlahan, dan rasanya bukan hanya manis dan gurih, tetapi juga getir yang tertinggal dari seseorang yang pernah bilang “kita”.


Komentar

Postingan Populer