Berpandu Realita
Riuh berisik bergema di belakang telinga menyuarakan perihal impian dan cita-cita yang selama ini aku bayangkan namun tak bisa aku dapatkan.
menyaksikan anak-anak baru memamerkan pencapaian mereka meraih perguruan tinggi dan program studi yang di ingini ternyata lebih berhasil membuat iri dibanding menyaksikan orang-orang memamerkan cinta kasih di depan layar kaca, jika aku bilang “aku menjalani kehidupan yang tidak aku inginkan” orang-orang akan menanggapi dengan “jangan ga bersyukur, hidup kamu udah enak”, aku akan sangat sepakat dengan itu, tapi in my silent day i wish “aku mendapatkan perguruan tinggi, gelar dan profesi yang aku inginkan”.
Bersiap untuk kehidupan di masa depan dengan restu orang tua yang membersamai di setiap langkah akan sangat memudahkan ku mendapatkan kehidupan yang layak. Tidak peduli dengan cita-cita yang hanya tinggal angan yang terpenting aku memberi yang di ingini.
Jika aku terlihat sangat berbahagia tentu saja iya, karna aku tiba di masa aku menerima kehidupanku yang sudah pada porsi nya tanpa mempertanyakan kembali perihal bagaimana perasaanku setelah tidak mendapatkan apa yang aku inginkan.
Aku tidak mencoba bukan karna aku tidak ingin, tpi mengurangi kemungkinan-kemungkinan lain yang akan membuatku menjadi membenci takdir.
Aku tidak berjuang, dan itu adalah kekalahan yang mutlak. Tetapi kata ayahku, dunia ga akan pernah kasih kamu rasa puas kalo kamu ga berpandu pada realita.
Komentar
Posting Komentar