Ternyata tanpa kamu,

aku menanti pesan darimu, tuanku.
"minal aidin wal faidzin, ran" sebuah text pesan dihari raya yang ternyata hanya bisa aku terima lewat mimpi dalam lelapku, karna pada kenyataannya aku tak pernah mendapatkan pesan itu diterbangkan darimu.

se-tidak ada itu kah perasaan bersalah di dalam dirimu? hancurku yang kamu buat tak pernah sembuh dengan waktu, iya tentu saja tidak semudah "sakitnyo pasti cuma bentar nia, agek beberapo minggu lagi nia pasti dah lupo" tidak semudah seperti kalimat itu kamu ucapkan ketika memaksa ku melepaskan mu,

semerbak mu yang kini terasa asing, membuatku kehilangan sedikit demi sedikit memori yang sempat terukir, sialnya alkisah yang masih selalu dirasa "disayangkan" itu sesekali masih menusuk tulang-belulang ku, bukan tanpa sebab.
berkali-kali aku berteriak bahwa denganmu aku betul-betul menemui cintaku yang penuh, tapi kamu memilih untuk tidak meyakiniku, entah egoismu yang mana yang berhasil kamu manjakan saat itu,

dibalik hancurku 5 bulan yang lalu,
ternyata tanpa kamu...tawaku hampa namun tetap pecah juga, sembab ku tak sampai hingga menahun lamanya, luka ku tidak sampai memberi trauma yang membekas, tpi pertanyaan "kamu dimana?" masih tetap membayang di setiap harinya.

mentari enggan memberi mendung sebab aku yang selalu berlindung dibalik itu, Indralaya mulai terasa sangat beruap hingga tangis ku tak lagi bisa menyejukkan sang malam, aku menerima kabar baik bahwa kamu menjalani harimu dengan baik, bahkan mungkin lebih baik, aku pun turut senang atas itu, tapi tetap terasa tidak adil karna kamu berbahagia setelah berhasil membuat aku kehilangan keyakinan bahwa aku pantas untuk cinta, 

namun bagaimanapun, kamu adalah bentuk perayaan sederhana yang pantas untuk di syukuri, dan perihal kehilangan...itu adalah hal yang akan selalu kita temui.

lalu, menurutmu bagaimana aku bisa kembali meyakinkan diriku?, tuan.

Komentar

Postingan Populer