kemana arah ku setelahmu?
Tuan, aku melihatmu...
aku menatap lirih ke arah mu saat kamu melewatiku bersama perempuanmu tepat dihadapanku, darahku sejenak berhenti mengalir tepat di waktu itu, aku sudah menyiapkan diri untuk momen seperti ini, aku pikir aku sudah cukup ahli mengatasi, tapi ternyata aku masih remidi, aku masih menatap dunia bak orang bodoh, sentak lemas sebadan-badan dan tubuh ku kehilangan keseimbangan tiap kali semesta menampilkan mu dalam layar hariku, sembari saat itu pertanyaan "kemana arah ku tanpamu?" berterbangan diatas kepalaku
kamu tau tuan? aku mengambil arah yang acak hingga menjalani produktif yang berlebihan, melakukan banyak sekali kegiatan yang terjadi dalam dua bulan terakhir ini, aku mengambil dua posisi menarik di dua organisasi, aku sedang mengusahakan tiga artikel sains, satu proposal lomba, satu proposal pmw, satu proposal ppko dan survei desa nya, seleksi beasiswa, serta seluruh rangkaian nya, aku kehilangan hari istirahat ku, sungguh aku pun tak tau hidupku aku bawa kemana? beruntungnya ini bukan hal yang salah.
ditengah aku yang sedang bekerja keras menyembuhkan, beberapa hati lain yang selain kamu juga datang menghampiri, menawarkan cinta dan bahagia,
iya aku sudah bertemu hati yang baru, satu diantaranya mulai membuatku bertanya tentang kebenaran adanya cinta yang tepat, sialnya dia persis seperti kamu, caranya bicara, caranya mengirimkan sebuah teks pesan, caranya bercerita, cara dia mendekat, persis seperti kamu pada awal, aku menyadari aku hanya melihat dia sebagai kamu, aku kembali meragukan, lalu aku mulai bertanya "apakah aku salah untuk merasa demikian?", aku masih menjadi rania yang sama seperti terakhir kali kamu menggenggam jemari ku, aku si rania yang penakut, denial, dan trust issue, aku pun masih merasa sembuhku belum begitu utuh,
aku takut sepi, tapi setelah kamu tinggal pergi ternyata rasanya tidak semengerikan yang aku pikir, hanya saja aku tidak bisa berbohong bahwa aku masih merasa perih, aku pun tak mampu mengelak bahwa kamu adalah sakit yang membuatku kapok dengan urusan perasaan atau semacamnya, aku melihat dunia yang kamu punya tampak menyenangkan disana, tidakkah kamu sekali saja meng-khawatirkan perihal bagaimana aku setelah kamu tinggalkan?,
aku benci merindumu, tapi dunia membuatku terus melakukan itu, seringkali terucap dari mulutku "ih iyo aku samo dio kemren pernah kesini", "ih kemrn aku smo dio jugo bahas ini", "ih aku prnh cuboin ini smo dio". "ih dio prnh mau bawa aku ksni", "ih kmi wktu itu berencana mau cobain ini", "ih aku prnh diajak ksni smo dio", dan banyak lagi ocehan-ocehan yang tidak penting seperti itu yang bahkan tidak pernah aku inginkan terucap dari mulutku,
aku sudah jauh lebih membaik, aku yakin.
namun aku tak akan mau membuat kenangan baru lalu mengubur kenanganku bersamamu yang aku temukan di kota ini, aku akan menyembuhkan tanpa membuat indralaya menjadi terlihat berbeda dan menyedihkan.
dan yang perlu kamu ketahui, aku benar benar kehilangan diriku yang susah payah aku sembuhkan sebelum denganmu kala itu.
Komentar
Posting Komentar