perihal aku,
Perihal aku yang mengira bahwa kamu adalah jiwa terbaik dalam hidupku, perihal aku yang mengira bahwa kamu adalah jawaban dari semua puisi-puisi menyedihkan yang pernah aku tuliskan, perihal aku yang mengira bahwa kamu adalah bagian dari semesta ku yang tuhan hadirkan, dan perihal aku yang membantah semua pernyataan buruk dari banyak orang karna kamu satu-satunya yang aku percaya.
Iya, aku salah mengira.
Pada kenyataan nya semua pernyataan manis itu hanyalah bualan persis seperti apa yang di duga-kan banyak orang, kamu tidak se-sempurna yang kamu perkenalkan, dan kamu bahkan bukanlah jiwa yang pantas memberiku banyak luka, teringat jelas kalimatmu saat melepasku hari itu "iyo kito selesai tapi tolong jangan nangis nia" aku berhasil tidak menangis sampai seminggu setelahnya, tapi ketika seorang mempertanyakan "kau dapapo nia?" tangisku pecah sejadi-jadinya, semua energi dalam tubuhku seakan runtuh dihari itu, aku mengira itu adalah bagian menyakitkan yang terakhir dari perjalanan ini, namun lagi-lagi aku salah mengira.
Aku bertemu lagi pada hari yang untuk sekali lagi betul-betul meruntuhkan semua perasaan yang ada, aku kehilangan ekspresi yang harus aku tunjukkan pada dunia, jemari ku kehilangan kendali nya bahkan untuk sesederhana mengirimkan pesan yang sederhana, iya..aku menemukan jawaban itu, jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini terbang dikepalaku, sehebat apapun kamu bersembunyi dari kenyataan yang dengan sengaja kamu sembunyikan, dan sehebat apapun aku menghindari semua berita apapun tentangmu, ternyata tuhan mengirimku kabar gembira dari bagianmu tapi tidak gembira dari bagianku, aku terluka.
Kamu dan perempuan mu harus tetap berbahagia karna bagian ku bukan sesuatu hal yang harus dipertimbangkan, tapi aku berbohong saat bilang ke semua orang "aku dapapo", karna aku lebih memilih mengucapkan kalimat menyakitkan hanya karna tak mampu menceritakan betapa sakitnya aku mendengar cerita bahwa kamu telah berbahagia, ditengah aku yang masih bekerja keras menyembuhkan.
Sebuah pertanyaan yang sudah aku tahu jawabannya masih saja aku bantah dengan harapan semesta berpihak "kenapo harus kek kemaren kalo akhirnyo kek ini?", hari itu aku sibuk mempertanyakan kenapa kamu repot-repot membuat aku jatuh hati jika akhinya kamu memilih hati yang lain, kenapa kamu mengundang ku masuk ke hidupmu jika akhirnya perempuan mu yang kamu jadikan penghuni tetapmu, jika aku hanyalah seorang tamu lalu kenapa kamu memberiku terlalu banyak rasa aman dan nyaman saat itu?
Perihal aku yang mengira bahwa aku tak akan separah ini kehilangan diri, perihal aku yang tidak menduga bahwa kamu tak punya sesuatu yang menghalangi kamu melepasku, dan perihal aku yang kehilangan bagian hidupku, "akankah tak ada satupun hal baik dari diriku yang menjadikannya alasanmu untuk tetap tinggal?" adalah sebuah pertanyaan bodoh ku saat kamu melepasku dan akhirnya aku sudah menyadari betapa bodohnya aku jika aku tetap disini,
aku juga akan berbahagia, aku yakinkan bahwa aku akan berbahagia tanpa mengacaukan sempurna-nya cintamu yang kamu ciptakan untuk perempuanmu,
jadi, berbahagialah.
Komentar
Posting Komentar