hujan memelukku,

 Tuan, 

aku mencoba berbagai agenda dalam bulan ini, aku berhasil meng-handle 3 acara secara berurutan, aku berhasil publish artikel yang menjadi paper pertama ku di salah satu jurnal sains indonesia, aku berhasil menyelesaikan banyaknya projek mata kuliah yang selalu aku keluhkan padamu kala itu, aku ikuti berbagai rangkaian kegiatan pengabdian, aku sempat explore desa-desa tertinggal indralaya untuk ppk ormawa, bahkan aku berhasil kembali menemukan mood untuk menonton drama kesukaan, 

tak ada yang aku kejar tuan, aku hanya enggan mengenangmu tapi naas-nya ternyata kamu tetap ada dalam lelah ku, aku menghindari semua kabar tentangmu, namun dengan kabar-kabar burung di sekitarku nampaknya kamu juga sangat sibuk dengan hidupmu, sempatkah kamu merinduku? atau sedikit saja mengenangku dalam lamun mu?, 

menyedihkan, aku nampak ingin sekali di rindukan?? hahahh.

tuanku, aku tak menanti apapun darimu, aku hanya melangitkan doa pada tuhan semoga di suatu kesempatan kamu bisa sadar betapa luasnya cintaku yang kamu hancurkan, aku betul-betul kehilangan semua perasaan menyenangkan yang ingin aku ciptakan, kamu membuatku runtuh tepat di hari itu, akupun enggan menata ulang karna percuma saja aku menata sendirian.

taukah kamu tuanku? aku menulis ini dibawah atap dengan suara rintikan hujan yang lebat, hujan yang selalu aku suka kini berubah menjadi suasana ternyaman untuk menuliskan kisah menyedihkan yang kamu ciptakan, kamu  tau betul betapa aku menyukai  hujan, tapi kini pandangku yang menyenangkan tetang hujan menjadi aku ragukan, 

dan taukah kamu tuan? aku kira aku cukup pandai menata luka, aku kira aku sudah jauh lebih membaik dari terakhir kali kamu meng-akhiri, tapi nyatanya sampai di hari ini tangan ku, raga ku, dan denyut nadi ku masih juga gemetar setiap kali melihat raga mu terpampang di slide cerita teman ku, aku masih tak bisa mengendalikan tangis ku setiap kali aku membuka album foto yang aku buat untuk mu, aku tak mampu menahan gemetar nya jemari  ku saat tak sengaja membaca chat manis mu yang sempat aku bintang-kan,

lalu bagaimana dengan mu aku bahkan tak sanggup membayangkan, aku tak mampu membayangkan setiap arsip cerita menyenangkan yang sempat kamu buatkan sudah kamu lenyapkan dari semua rangkaian cerita perjalanan, aku tak tau perasaan dan raut wajah seperti apa yang harus aku tunjukkan pada dunia? 

dan kemarin aku kembali melalui jalanan yang membawa ku hanyut dalam arus mu, aku menahan tangis ku dengan penuh di sepanjang perjalanan, kamu betul-betul merenggut semua memori ku yang tak seharusnya aku habiskan denganmu, bahkan tak ter-pikirkan olehku bahwa bahagia di hari itu akan menjadi hari menyedihkan di hari ini.

Komentar

Postingan Populer