kepada tuan,
teruntuk tuan yang lenyap dalam dekapan,
aku masih saja disini sejak terakhir kali kamu memilih meng-akhiri, dimana bahagia yang kamu bilang akan segera aku dapatkan setelah membiarkan mu terlepas?, akankah kau menipu ku perihal itu tuanku?, tidakkah kau merindu ku untuk semalam saja dalam lelap malam mu? tidakkah kau merindukan momen-momen hangat yang sempat kita ciptakan?
tuan, momen pertama yang aku rekam dalam kepalaku di tepian danau sore itu selalu saja mengacaukan ku, ingin sekali aku melupa mu tapi memori itu seakan enggan menjauh, di tempat umum sekalipun aku tetap harus dengan sekuat tenaga menahan tangisku, lalu bagaimana denganmu setelah dialog itu pun aku tak tau menau, kamu menghapus ku dalam setiap bagian kisah mu, kamu mengahpus ku bahkan di dalam kisah yang sempat kamu ciptakan untukku,
aku akui ketidaksiapan ku dalam melupa mu, tapi tuan hari-hari ku betul betul kehilangan hilalnya, aku harus apa dan bagaimana aku tak mampu menjawabnya, aku sangat lelah mendengar hati dan logika berseteru sepanjang malam, mengganggu malam dan imajinasi yang sengaja aku ciptakan dalam lelap, karna seindah apapun yang aku bayangkan, aku akan selalu harus menerima pamitmu.
tuan, senyum mu masih tersusun rapi dalam album ponsel ku, album yang kuberi judul "lopelyy" itu hingga kini belum sanggup aku hampiri, aku takut tak bisa menahan derasnya danau yang aku tampung dan menyebabkan banjir pada ladang ku, tapi kau harus tau..sedikit perkembangan ku dalam satu bulan ini adalah hari ini untuk pertama kalinya aku meminta pada tuhan untuk melapangkan perasaan, ternyata sesakit ini menuju ikhlas,
aku terima semua proses menyakitkan, walau aku merasa ini tidak adil karna kamu terlihat tidak mengkhawatirkan apapun yang kamu ciptakan.
Komentar
Posting Komentar